top of page
Bali Tour

Hindu Galungan Ceremony

  • Gambar penulis: Velca Channel
    Velca Channel
  • 26 Mar 2022
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 10 Jan 2023

Upacara Galungan Hindu Bali adalah upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual untuk dapat membedakan antara kekuatan kehidupan yang berasal dari adharma dan yang athi budhi adalah suara kebenaran (dharma). Ini juga memberikan kemampuan untuk membedakan orientasi raksasa (asura sampad) dan orientasi Tuhan (god sampad). Harus disadari bahwa hidup itu bahagia atau hidup emo memiliki kemampuan untuk menguasai orientasi raksasa.

Upacara Galungan adalah upacara mengingatkan secara ritual dan spiritual untuk selalu memenangkan Dewi Sampad dalam menegakkan dharma (kebenaran) melawan adharma (kejahatan). Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan detail upacara dijelaskan secara rinci. Mengenai arti dari pengusiran Sunarigama Galungan dijelaskan sebagai berikut:


Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep: Artinya: Rabu PON (kalender Bali) Nama Dungulan Galungan, satu-satunya titik spiritual tinggi untuk mendapatkan pandangan yang jelas untuk menghilangkan kekacauan pikiran.


Dengan demikian, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan spiritual untuk mendapatkan pikiran dan pendirian yang jelas. Penyatuan spiritual dan pikiran yang cerah di sini dalam bentuk dharma. Sedangkan semua kekacauan yang dipikirkan (byaparaning idep) adalah bentuk adharma.

Konsep Upacara Galungan :

Dari konsepsi ejeksi diperoleh kesimpulan Sunarigama bahwa sifat Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma, serangkaian kegiatan dilakukan sebelum dan sesudah Galungan:


Sebelum Galungan disebut Sugihan Java dan Sugihan Bali. Kata di sini mirip dengan Java di Jaba, yang berarti di luar.


1. Sugihan Java: Bermakna memurnikan Bauan Agung (bumi) di luar manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada Wrhaspati Wage Wuku sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari itu Sugihan Jawa adalah kalinggania Jawa kalinggania semua dewa pamrastista (pengudusan Tuhan, karena itu merupakan penyucian dari semua Tuhan). Pelaksanaan upacara ini adalah untuk membersihkan semua tempat dan peralatan upacara di setiap kuil. Sementara itu pada hari Jumat Kliwon Wuku sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (karena itu memurnikan tubuh, masing-masing).


2. Sugihan Bali: Disebutkan menyucikan diri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan ada di dalam. Dan itu disucikan.


- Di Redite, Paing Wuku Dungulan memberi tahu Kala Tiga Wisesa tentang orang yang mengganggu. Maka pada hari itu dianjurkan anyekung Jnana, artinya: membungkam batin untuk dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar disebutkan juga nirmalakena (mereka yang pikirannya selalu murni) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.


- Pada hari Senin Pon Dungulan memanggil Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang-orang yang tahu tentang yoga dan ibadah samadhi. Dalam lontar dinyatakan, "Pangastawaning ngamong yoga samadhi."


- Pada hari itu disebutkan Anggara Wage wuku Dungulan Penampahan Galungan. Pada hari ini dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara utama adalah melakukan persembahan byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Sebagian besar orang saat ini sebagai hewan pemotongan babi kurban. Namun makna sesungguhnya adalah harus membunuh sifat kebinatangan yang ada dalam diri mereka. Demikian pula urutan upacara yang mendahului Galungan.


- Setelah Galungan adalah hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini orang-orang mengingat betapa indahnya kemenangan dharma. Orang-orang pada umumnya melambangkan kegembiraan untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan, terutama panorama yang indah. Juga saat mengunjungi kerabat.


- Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan disebut hari Guru Pemaridan. Pada hari ini, melambangkan para dewa yang kembali ke surga dan meninggalkan hadiah berupa kadirghayusaan yang menjalani hidup sehat yang panjang. Pada hari ini orang-orang diimbau agar simbal dikirim ke meraka dan matirta gocara. Upacara barmakna, orang menikmati Dewa waranugraha.


- Pada hari Jumat Wage bernama Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara harus dilakukan. Hanya direkomendasikan aktivitas spiritual di lontar Sapuhakena malaning jnyana (hancurkan kekotoran batin).


- Keesokan harinya, Sabtu PON memanggil Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, persembahan upacara dilaksanakan harus pada pagi hari dan melewati upacara siang hari. Mengapa? Sejak tengah hari para dewa dan dewa Pitara "disuruh" kembali ke Swarga (dewa kacang mwah maring Swarga).

Wisatawan yang sedang melakukan kunjungan Tour Bali tepat pada hari perayaannya dapat merasakan suasana yang unik dan menarik. Perayaan khas Bali yang menjadikan Liburan Bali sulit untuk dilupakan.


Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page